Merantau untuk Tumbuh: Pengakuan Ray Al Bani

Oleh: Muhamad Ray Albani
(Mahasiswa UNDIKSHA Singaraja)

Pada usia yang belum genap 19 tahun, saya meninggalkan rumah orang tua, dari zona nyaman (comport zone) masa kecil di Jakarta.

Pilihan saya jatuh pada Singaraja, Buleleng, Bali—sebuah wilayah yang jauh dari pusat kota besar—bukan untuk mencari kenyamanan baru, melainkan untuk menuntut ilmu dan menguji diri.

Keputusan merantau ini semakin mantap setelah saya berhasil memperoleh beasiswa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, sebuah perguruan tinggi negeri yang membuka jalan bagi saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan biaya, melainkan titik balik yang mengubah arah hidup saya.

Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas, saya sudah memikirkan secara matang bidang ilmu yang ingin saya tekuni.

Pilihan itu jatuh pada ilmu hukum, bukan karena ikut-ikutan atau gengsi, melainkan karena kesadaran dan ketertarikan mendalam terhadap ilmu yang kelak saya yakini mampu mengubah nasib—bukan hanya nasib saya, tetapi juga keluarga saya.

Kesadaran Pertama: Saya Masih Kecil

Ketika hidup jauh dari orang tua, kesadaran paling awal yang saya rasakan adalah: saya merasa masih kecil dan belum tahu apa-apa. Selama ini saya terbiasa bergantung pada ibu dan ayah. Namun di perantauan, tidak ada tempat bersandar selain diri sendiri dan Tuhan.

Di sinilah saya benar-benar memahami bahwa hidup tidak selalu menyenangkan. Kesepian menjadi bagian dari hari-hari saya. Tidak ada lagi sosok yang bisa saya mintai tolong setiap waktu.

Terkadang punya masalah dan kesulitan sebagai anak kost yang jauh dari orang tua dan saudara, saya coba atasi sendiri walau kadang ada keinginan curhat ke ayah yang sangat dekat denganku dan sering sharing ketika kami masih bersama.

Namun saya juga sadar, tanpa melalui fase ini, saya tidak akan berubah. Saya tidak akan pernah belajar mandiri.

Belajar Mandiri dari Hal-Hal Sederhana

Memasak, mencuci, mengatur hidup sendiri—semuanya terasa berat dan menyebalkan di awal. Tetapi justru dari situ saya belajar. Jika saya terus dimanjakan, saya tidak akan pernah tumbuh.

Sebagai anak yang sejak kecil serba dilayani, pengalaman hidup mandiri ini menjadi pelajaran baru yang sangat berharga.

Ini bukan penderitaan. Ini adalah proses pendewasaan.

Dilema Pendidikan dan Beban Orang Tua

Ketika akhirnya saya diterima di program studi hukum—bidang studi yang sejak awal saya inginkan—perasaan saya campur aduk.

Ada rasa bangga karena berhasil, tetapi juga kegelisahan yang besar: soal biaya.

Saya sadar betul kondisi ekonomi keluarga kami. Untuk kebutuhan sehari-hari saja, orang tua saya kerap berada dalam situasi yang tidak stabil. Namun dukungan mereka tidak pernah setengah-setengah.
Dengan segala keterbatasan, ibu dan ayah tetap mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan.

Saya tahu, kuliah hukum bukan perjalanan singkat.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Saya juga sadar, selama itu pula orang tua saya harus berjuang lebih keras.

Karena itu, sejak awal saya bertekad: suatu hari nanti saya harus bisa mengurangi beban mereka, entah dengan bekerja paruh waktu atau cara lain yang halal dan bermartabat.

Belajar Toleransi di Tanah Rantau

Hidup di Singaraja mengajarkan saya arti toleransi yang sesungguhnya.

Saya berada di lingkungan dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda dari nilai-nilai yang saya anut sebagai seorang Muslim.

Ada hal-hal yang tidak sejalan dengan ajaran agama saya, namun dari situ saya belajar bahwa perbedaan tidak selalu identik dengan keburukan.

Saya tidak mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan keyakinan saya, tetapi saya menghormati pilihan mereka.

Teman-teman saya di sini adalah orang-orang baik—mereka hadir, membantu, dan menemani, meski usia pertemanan kami masih seumur jagung.

Tekanan Akademik dan Manajemen Waktu

Kuliah hukum sejak semester pertama sudah penuh tekanan. Tugas datang silih berganti. Tidak ada kata “ampun”.

Namun dari situ saya belajar mengelola waktu, membagi antara tuntutan akademik dan kehidupan sehari-hari.
Secara ekonomi, saya masih bergantung pada orang tua.

Hal ini sering membuat saya merasa bersalah, karena saya tahu masih ada dua saudara saya di rumah yang juga membutuhkan biaya hidup dan pendidikan. Saya ingin mandiri. Saya ingin seperti ayah saya dulu—kuliah sambil berpenghasilan.

Tekad dan Doa Orang Tua

Apa yang membuat saya yakin bisa menyelesaikan pendidikan ini?

Jawabannya sederhana: tekad dan doa orang tua.
Saya ingin mencerdaskan diri saya sendiri.

Jika saya berhasil, saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, menaikkan derajat keluarga, dan suatu hari bisa membantu adik-adik saya mengenyam pendidikan tinggi.

Orang tua saya tidak pernah menuntut balasan. Mereka hanya ingin saya hidup layak dan bahagia.

Justru karena itulah saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri jika menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ilmu sebagai Keyakinan Hidup

Satu hal yang paling saya yakini hingga hari ini adalah ilmu pengetahuan.

Tanpa ilmu, saya bukan siapa-siapa. Dengan ilmu, saya punya peluang untuk memperbaiki hidup—baik untuk diri saya sendiri maupun orang lain.

Ilmu adalah fondasi. Dari sanalah harapan lahir.

Ayah: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Bagi saya, ayah adalah pahlawan sejati. Ia rela menanggung kerasnya dunia, hinaan, dan kelelahan hidup demi memastikan anak-anaknya hidup layak. Ayah sering terlihat tertawa, tetapi saya tahu ia memendam beban yang tak pernah ia ceritakan.

Ayah adalah sosok paling tangguh yang saya kenal. Pahlawan pertama saya. Saya ingin menjadi seperti ayah—atau setidaknya mendekatinya.

Saya selalu mendoakan ayah. Meski sering sakit, ayah tidak pernah berhenti berjuang. Dan cinta saya kepada ayah akan selalu ada, selamanya.

Saya dan kedua adik adik saya, sangat tahu betapa ayah sangat menyayangi anak anaknya. “We Love You Ayah.”

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP