Inovatif, Monumen Kusuma Yudha Ringdikit Segera Ditata Menjadi Taman Edukasi

SERIRIT, Balidokumenter.com

“Jas Merah” / Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Demikian semboyan yang digaungkan Bung Karno, salah satu pendiri Republik Indonesia agar generasi tidak lupa dengan perjuangan di masa para syuhada yang memperjuangan kemerdekaan Indonesia

Sejarah adalah sebuah kisah dari masa lalu yang bisa dijadikan pelajaran di masa sekarang dan akan datang. Beberapa kisah-kisah sejarah masa lalu begitu mudah terabaikan dan bahkan yang banyak hilang dan terabaikan.

seperti salah satu monument Kusuma Yudha yang berada di Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng adalah salah satu bukti perjuangan para pahlawan saat melawan kolonial Belanda. Bahkan pra kemerdekaan Republik Indonesia para pejuang sudah banyak melakukan perlawanan.

Guna menghargai jasa para pahlawan yang gugur saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru berumur 3 tahun. Monumen Kusuma yudha yang dibangun sejak tahun 1990. Namun monumen tersebut bersinar ketika momen peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dengan sekedar menaburkan bunga

melihat kondisi monumen yang hanya menjadi ajang peringatan HUT RI tersebut Perbekel Desa Ringdikit, Made Sumadi berinsiatif untuk melakukan revitalisasi atau pembanguan monumen Kusuma yudha agar lebih ditata agar menjadi nilai edukasi kepada generasi muda

Kata Perbekel yang rama senyum ini, salah satu menghargai para pahlawan khususnya dari Ringdikit adalah penataan kembali. Menurutnya, pihaknya sudah menyampaikan kepada Bupati Buleleng, Nyoman Sutcidra ketika melakukan kunjungan di Desa Ringdikit.

“kami sudah menyampaikan rencana pembangunan atau penataan monument Kusuma Yudha yang menurut kesepakatan para tokoh masyarakat agar monumen Kusuma yudha ditata dengan konsep ruangan hijau dan tempat rekreasi bagi generasi muda,”tutur Perbekel Sumadi belum lama ini

Disebutkan, penataan monument Kusuma Yudha diperkirakan menghabiskan anggaran Ro 200 juta yang meliputi pembangunan tembok penyekar di areal munumen dan penataan ruang terbuka hijau.

Penataan monumen Kusuma Yudha bertujuan selain memberikan edukasi kepada generasi muda khususnya para siswa, juga areal taman rekreasi. Karena menurut Perbekel Sumadi konsep tersebut terinspirasi konsep membangun desa Mandiri

“Catatan sejarah yang kita pelajari bagaimana perjuangan masyarakat Ringdikit saat menghadang Tentara NICA meskipun dihadang dengan ditumbangkan pohon asam di sepanjang jalan di desa Mayong namun pertempuran tidak bisa dielakkan sehingga kedua belah pihak berjatuhan korban jiwa,tutur Perbekel Sumadi

Monumen Kusuma Yudha adalah salah satu tonggak sejarah perjuangan masyarakat Ringdikit dan beberapa desa di sekitanya melakukan perlawanan tahun 1946 ketika NICA ( gabungan bangsa Inggris dan Belanda ) ingin menjajah Indonesia kembali.

Sementara kepala TK Kusuma Putra, Made Adipta Putra, S.Sos. mengapresiasi langkah perbekel Desa Ringdikit, Made Sumadi dalam melakukan terobosan penataan monumen Kusuma yudha dalam inovasi pengembangan edukasi.

Adipta yang juga putra pejuang veteran asal Desa Ringdikit ini menjelaskan, hampir semua monumen di Indonesia hanya dilirik ketika agenda serimonial HUT RI dan hanya menaburkan bunga. Namun yang terpenting adalah bagaimana mewariskan ilmu atau sejarah kepada generasi ke depan.

Adipta Putra meminta kepada pemerintah kabupaten Buleleng agar lebih mengedepankan nilai edukasi kepada generasi muda tentang perjuangan para Kusuma bangsa dalam mempertaruhkan jiwa dan raga mereka

“”penataan monument Kusuma Yudha adalah proses progresif dalam memberikan nilai nilai edukasi kepada generasi muda.di samping itu lokasinya cukup strategis dalam pengembangan kawasan wisata monumen Kusuma bangsa,”tandas Adipta Putra

Adipta kembali mengkisahkan perjuangan masyarakat Ringdikit dan dibantu beberapa desa dalam bentuk perlawannan terhadap tentara NICA

Terdengar kabar bahwa tentara NICA sudah berada di Pulau Jawa dan bahwa di seluruh Indonesia termasuk pulau Bali. Para Pejuang dari Desa Ringdikit mengajak sejumlah desa untuk melakukan perlawannan terhadap Tentara NICA,. Perempuan Senget antara masyarakat Ringdikit tak bisa terelakan lagi.

Bahkan strategi perang adalah ratusan masyarakat memotong pohon asam di sekitar Desa Mayong dengan tujuan mencegah tentara NICA masuk ke wilayah Buleleng.

“kita masih harus belajar banyak soal menghargai sejarah, menggambarkan perjuangan bangsa merengkuh kemerdekaan dalam kondisi sepi, tanpa banyak yang tahu bahwa disitu terdapat monumen tentang kisah sejarah bangsa,”ujarnya

Monumen adalah sebuah penanda yang dibangun untuk memperingati peristiwa yang dianggap penting, sebuah kisah sejarah yang terjadi di tempat tertentu. Dan juga menjadi salah satu simbol sebuah daerah.(Yasin)

EDITOR: ZAINUDDIN YASIN

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP