Adipta Putra : Hari Suci Galungan Diharapkan Menjadi Momentum Penguatan Dharma di Tengah Tantangan Digital

Buleleng_balidokumenter.com

Umat Hindu di Bali dan pada umum melaksanakan Hari Suci Galungan, yang kembali dirayakan pada 18 November 2025, menjadi pengingat pentingnya memperkuat nilai dharma di tengah perkembangan teknologi dan budaya digital yang semakin cepat.

Demikian ditegaskan salah satu pemerhati sosial, Made Adipta Putra, S.Sos, M.Pd dikonfirmasi, Selasa (25/11) menilai bahwa perubahan gaya hidup digital membuat umat menghadapi tantangan baru dalam menjaga kekhusyukan beragama.

Adipta, sapaan akrab Made Adipta Putra, menekankan bahwa Galungan bukan sekadar ritual seremonial, tetapi perjalanan batin untuk meneguhkan kemenangan dharma dalam diri manusia.

Menurutnya, arus digitalisasi membuat adharma hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti kecanduan gawai, kebiasaan membandingkan diri di media sosial, penurunan fokus saat sembahyang, serta ritual yang dilakukan hanya demi estetika foto.


Ia menjelaskan bahwa ajaran dalam Bhagavadgita, Sarasamuscaya, dan Tattwa Jnana menegaskan pentingnya mengendalikan keinginan dan menjaga kejernihan batin. agar kemenengan darma memberi terang dalam hidup

“Dalam Bhagavadgita mengenai bahaya kenikmatan indria sangat relevan di era digital, ketika notifikasi, konten viral, dan tuntutan validasi sering kali membuat manusia kehilangan kesadaran diri,” ungkapnya.

Dalam konteks Galungan, rangkaian seperti penyekeban, penampahan, persiapan banten, hingga pemasangan penjor bukan sekadar tradisi turun-temurun.

Semua proses itu, kata putra veteran 1930 an itu merupakan bentuk penyucian Tri Sarira—badan fisik, pikiran, dan jiwa. Namun Irma melihat adanya kecenderungan umat yang fokus pada tampilan luar, seperti membuat penjor hanya demi dokumentasi foto, membeli banten karena waktu tersita untuk aktivitas digital, atau tetap mengecek pesan saat melaksanakan persembahyangan.

Untuk mengembalikan makna Galungan, Adipta yang juga kepala TK/PAUD Kusuma Putra Desa Ringdikit ini mengajak umat melakukan detoks digital menjelang hari raya. Ia menganjurkan agar umat menonaktifkan notifikasi saat membuat banten atau sembahyang, menyisihkan waktu untuk hening sebelum memulai ritual, serta menjadikan media sosial sebagai sarana berbagi nilai dharma, bukan ruang untuk pamer.

“Penekanannya kemenangan dharma pada masa kini bukan lagi perang fisik seperti kisah Dewa Indra dan Mayadenawa, melainkan pertarungan internal,” sebut jelas pria 2 cucu ini mencontohkan.

Mengendalikan amarah, menahan dorongan untuk selalu online, dan mampu fokus pada doa meski dikelilingi distraksi digital merupakan bentuk kemenangan dharma dalam kehidupan modern.


Adipta yang juga ketua PAUD Kabupaten Buleleng ini menekankan bahwa digitalisasi bukan sesuatu yang harus ditolak, tetapi harus disikapi bijak agar teknologi menjadi alat yang membantu, bukan mengendalikan batin.

Nilai dharma dinilai tetap mampu menjembatani tradisi dengan kemajuan zaman, menjaga manusia tetap terhubung pada jati diri dan tujuan spiritual.
Melalui perayaan Galungan tahun ini, umat diharapkan tidak hanya melaksanakan rangkaian ritual, tetapi juga melakukan refleksi mendalam tentang perubahan perilaku akibat dunia digital.

Kesadaran untuk hadir sepenuhnya dalam setiap proses dipandang menjadi inti dari kemenangan dharma, sehingga nilai-nilai spiritual tetap relevan di tengah perubahan zaman.(TIM)

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP