jetpack domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/balr7381/public_html/wp-includes/functions.php on line 6260Ketua DWP Kabupaten Buleleng, Ny. Dewi Suyasa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya DWP dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para anggotanya terhadap pentingnya deteksi dini penyakit berisiko, khususnya kanker serviks dan kanker payudara.
“Kegiatan hari ini masih dalam rangkaian memperingati HUT DWP yang ke-26, di mana kami bekerja sama dengan Prodia untuk memberikan sosialisasi sekaligus melakukan screening kanker payudara dan kanker serviks bagi anggota dan wanita persatuan di Kabupaten Buleleng,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ny. Dewi Suyasa menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut juga dilakukan tindakan pemeriksaan Pap Smear bagi anggota DWP yang telah mendaftarkan diri. Pihaknya menyebutkan antusiasme anggota DWP terhadap kegiatan ini sangat tinggi.
“Respon dari ibu-ibu sangat luar biasa. Banyak yang bersemangat mengikuti sosialisasi maupun pemeriksaan screening. Mereka juga berharap kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan rutin setiap tahun dan menjangkau seluruh anggota DWP di Kabupaten Buleleng,” tambahnya.
Dipenghujung, Ny. Dewi Suyasa mengajak seluruh anggota DWP untuk tidak takut melakukan deteksi dini terhadap kanker.
“Mari, Ibu-ibu anggota DWP Buleleng, kita edukasi diri kita sejak dini. Lakukan pemeriksaan lebih awal agar kita bisa mengetahui kondisi kesehatan kita lebih cepat. Karena semakin cepat kita tahu, semakin besar peluang kita untuk tetap sehat dan selamat,” pungkasnya.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kanker pada perempuan, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Buleleng, Ny. Wardhani Sutjidra, hadir dan berbagi pengalaman inspiratif bersama para Wanita Usia Subur (WUS) untuk peduli deteksi dini kanker di Aula Pertemuan Puskesmas Buleleng I, Senin (10/11).
Kegiatan yang bertema “Bersama Kita Cegah Kanker” ini menjadi wadah edukasi penting bagi perempuan untuk memahami risiko, gejala, dan pentingnya deteksi dini kanker leher rahim (serviks) serta kanker payudara. Dua jenis kanker ini masih menjadi penyebab utama kematian pada wanita di Indonesia, meski sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan bila ditemukan sejak dini.
“Banyak perempuan terlambat datang ke fasilitas kesehatan karena merasa baik-baik saja. Padahal, deteksi dini justru memberi kesempatan besar untuk sembuh. Jangan takut memeriksa diri, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati,” ujar Ny. Wardhani Sutjidra.
Ny. Wardhani Sutjidra menekankan pentingnya skrining atau deteksi dini kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara, dua jenis kanker yang masih menjadi ancaman utama bagi kesehatan perempuan di Indonesia. Ia mengajak para wanita untuk lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi dengan melakukan pemeriksaan secara berkala.
“Deteksi dini adalah kunci pencegahan. Dengan pemeriksaan rutin, kanker dapat ditemukan pada tahap awal sehingga peluang kesembuhan jauh lebih besar,” ujar Ny. Wardhani Sutjidra.
Ia juga mengingatkan bahwa wanita yang sudah menikah atau aktif secara seksual disarankan melakukan skrining kanker leher rahim secara rutin, khususnya pada usia 30–69 tahun. Untuk skrining payudara, dianjurkan bagi semua wanita terutama yang memiliki riwayat keluarga kanker atau faktor risiko lainnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya kaum perempuan, agar lebih memperhatikan pentingnya pemeriksaan dini guna menekan angka kejadian dan kematian akibat kanker.
“Perempuan sehat adalah kunci keluarga dan bangsa yang kuat. Mari bersama menjaga kesehatan diri dengan langkah sederhana, yaitu deteksi dini,” tutup Ny. Wardhani. (TIM)
]]>Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam hal ini Dinas Kesehatan terus menggencarkan pelaksanaan ILP (Integrasi Layanan Primer). Pelaksanaan ILP di Kabupaten Buleleng tentunya berfokus pada tiga hal, yaitu siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan, perluasan layanan kesehatan melalui jejaring hingga tingkat desa, serta memperkuat pemantauan wilayah sesuai dengan situasi kesehatan.
Pembahasan penguatan optimalisasi ILP ini dilaksanakan melalui rapat koordinasi lintas program dan lintas sektor yang dilaksanakan, Jumat (07/11) di Puri Saron-Desa Pemaron, yang dibuka langsung oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Putu Ariadi Pribadi, S.STP. MAP.
Dalam paparannya, Ariadi Pribadi menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mewadahi koordinasi dan advokasi terkait pelaksanaan ILP khususnya di Kabupaten Buleleng. “Secara kebijakan, tentunya kami akan terus melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan semua stake holder terkait bahkan sampai tingkat terbawah, karena program ini harus didukung lintas sektor,” ucap Ariadi.
Ariadi menambahkan, dalam Integarasi Layanan Primer ini, khususnya Posyandu telah diarahkan untuk menyediakan layanan terstandar bagi masyarakat yang berbasis siklus hidup, yakni mulai dari ibu hamil, ibu menyusui/ nifas, bayi, balita, anak pra sekolah, usia sekolah, remaja, usia dewasa dan lansia.
Salah satu narasumber, I Wayan Sumeken yang juga Perbekel Desa Nagasepeha menuturkan, bahwa posyandu yang ada di Desa Nagsepaha telah memiliki beberapa kader yang diperkuat dengan kegiatan kunjungan oleh kader yang dilakukan secara terencana. “Pelayanan di Posyandu kami bersifat promotif dan preventif yang diberikan secara terintegrasi untuk meningkatkan kualitas layanan sosial dasar kepada masyarakat utamanya di Desa Nagasepeha,” ucap Sumeken.
Disisi lain, para kader posyandu desa memiliki inovasi – inovasi agar masyarakat rutin datang ke posyandu diantaranya melalui : tabungan/cingkereman posyandu dan pemberian sembako.
Dalam kegiatan kali ini penguatan ILP dilaksanakan pada wilayah lokus yaitu Puskesmas Buleleng III, Desa Alasangker, Desa Jinengdalem, Desa Petandakan, dan Desa Nagasepaha serta advokasi untuk pelaksanaan ILP di wilayah non lokus di Kabupaten Buleleng.
]]>Momen Tumpek Wariga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, Bali, secara proaktif menggelar gerakan penanaman pohon dan pembersihan sungai serta saluran air di seluruh wilayah. Gerakan masif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat ini merupakan langkah antisipatif untuk meminimalisir risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, yang kerap mengancam di periode musim penghujan.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai upaya nyata pencegahan bencana. Berdasarkan pengamatannya, akhir dan awal tahun merupakan periode dengan curah hujan cukup tinggi yang berpotensi menyebabkan bencana longsor dan banjir di Kabupaten Buleleng. Menghadapi ancaman tahunan ini, gerakan pembersihan sungai dan penanaman pohon sengaja dilaksanakan sebelum musim hujan tiba.
“Hal tersebut dilakukan untuk membuat air bisa mengalir tanpa hambatan sehingga curah hujan yang tinggi itu tidak berakibat atau berdampak buruk terhadap lingkungan yang ada di sekitar,” ujarnya saat ditemui usai memimpin Kegiatan Penanaman Pohon dan Bersih-Bersih Sugai Gotong Royong Semesta Berencana di areal Pura Tirta Sudhamala, Kelurahan Banyuasri, Minggu (26/10). Kegiatan juga dihadiri oleh Wakil Bupati Gede Supriatna dan Sekretaris TP PKK Buleleng Ny. Hermawati Supriatna
Lebih lanjut dirinya memaparkan bahwa Pemkab memang memiliki program rutin di setiap bulan Oktober, tepat pada masa menjelang musim hujan. Pada periode tersebut, pembersihan menyeluruh pada daerah-daerah aliran sungai (DAS) dan saluran-saluran air di sekitar perkotaan secara intensif dilakukan. Menurutnya, penyumbatan pada saluran inilah yang sering menjadi pemicu utama bencana banjir, khususnya di sepanjang aliran sungai yang melewati kawasan permukiman.
Kekuatan gerakan ini, seperti dijelaskan Bupati, tidak hanya bertumpu pada jajaran instansi pemerintah. Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, Polri, hingga seluruh lapisan masyarakat hingga tingkat desa dan perangkatnya turut digerakkan secara masif.
“Setiap wilayah memiliki tanggung jawabnya masing-masing untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungannya tanpa mencemari daerah lain. Instruksi tersebut telah sering disampaikan untuk memastikan gerakan ini benar-benar dilakukan bersama-sama,” jelas Sutjidra.
Nilai lokalitas dan kearifan budaya Bali juga turut menguatkan gerakan ini. Bupati Sutjidra menyebut bahwa momentum ini selaras dengan filosofi Hari Tumpek Wariga, hari suci dalam kepercayaan Hindu Bali untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, aksi nyata ini tidak hanya memiliki dasar ekologis tetapi juga dilandasi oleh nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat.
Harapan terbesar Bupati Sutjidra adalah tumbuhnya kesadaran kolektif seluruh masyarakat Buleleng akan pentingnya menjaga lingkungan dan bumi. Kesadaran ini diyakininya bukan hanya untuk keberlangsungan hidup generasi saat ini, tetapi lebih jauh untuk menjamin kualitas kehidupan generasi yang akan datang.
“Kita harus jaga betul bumi ini dengan cara membersihkan kemudian melaksanakan penanaman pohon agar sumber-sumber air itu tetap terjaga,” tutupnya.
Untuk diketahui, penanaman pohon dan bersih-bersih sungai dilakukan serangkaian peringatan Hari Suci Tumpek Wariga. Kegiatan dilakukan di lima titik yaitu Daerah Aliran Sungai (DAS) Banyumala, DAS Buleleng di Kelurahan Kampung Singaraja, DAS Buleleng di Kelurahan Banjar Bali, DAS Buleleng di Kelurahan Kampung Baru dan Muara Sungai Kerobokan di Pantai Kerobokan, Kecamatan Sawan. (TIM)
]]>