IWCS Dorong Perempuan jadi Garda Depan Ketahanan

JAKARTA — Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum mengenang perjuangan perempuan dalam memperoleh akses pendidikan dan kesetaraan.

Meski peringatan tersebut telah berlalu beberapa pekan, semangat yang diwariskan Kartini tetap hidup—tercermin dari geliat perempuan dalam Indonesia Women in Cybersecurity yang terus menggelora, mendorong kaum perempuan tampil sebagai garda terdepan dalam memperkuat ketahanan digital Indonesia.

Namun, seiring perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi perempuan mengalami pergeseran signifikan. Jika dahulu perjuangan terfokus pada akses pendidikan, kini perempuan dihadapkan pada realitas baru: bagaimana menjadi aman, berdaya, dan bijak di tengah derasnya arus dunia digital.

Dalam konteks ini, lahir sebuah konsep yang kian relevan Kartini Digital. Sosok perempuan yang tidak hanya terhubung dengan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran, kapasitas, serta peran aktif dalam menjaga keamanan digital, baik bagi dirinya, keluarga, maupun lingkungan sekitarnya.

Perempuan di Garis Depan Ketahanan Digital

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 200 juta pengguna internet. Di balik peluang besar tersebut, muncul berbagai risiko yang tidak bisa diabaikan, mulai dari penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, hingga ancaman terhadap anak di ruang digital.

Sayangnya, literasi keamanan digital di tingkat keluarga masih menjadi tantangan. Banyak orang tua terutama ibu belum memiliki bekal yang memadai untuk mendampingi anak-anak dalam menghadapi kompleksitas dunia digital.

Berangkat dari kondisi tersebut, Indonesia Women in Cybersecurity hadir dengan pendekatan berbasis akar rumput, menempatkan perempuan sebagai pusat dalam membangun ketahanan digital.

Lima Tahun IWCS: Momentum Kartini di Era Siber

Tahun ini menjadi momen istimewa bagi IWCS. Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, organisasi ini juga menandai perjalanan lima tahun kiprahnya dalam mendorong partisipasi perempuan di bidang keamanan siber.

Sejak berdiri, IWCS konsisten mengembangkan program edukasi, advokasi, dan pemberdayaan perempuan dalam ekosistem digital. Dalam kurun waktu tersebut, IWCS tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga memperluas kesadaran publik mengenai pentingnya keamanan digital berbasis keluarga.

Momentum lima tahun ini menjadi refleksi sekaligus penegasan bahwa perjuangan Kartini tidak berhenti pada akses pendidikan, tetapi terus berlanjut dalam bentuk baru: membangun ketahanan digital melalui peran perempuan.

Momentum Regulasi: Hadirnya PP Tunas

Upaya perlindungan anak di ruang digital kini diperkuat dengan hadirnya PP Tunas, sebuah regulasi yang menekankan pentingnya tata kelola dan perlindungan anak dalam ekosistem digital.

Regulasi ini menjadi langkah strategis dalam memastikan bahwa perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga melibatkan seluruh ekosistem—mulai dari platform digital, institusi, hingga keluarga.

Namun demikian, regulasi saja tidak cukup. Implementasi di tingkat masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan. Di sinilah peran edukasi dan pemberdayaan menjadi krusial, terutama bagi orang tua sebagai garda terdepan dalam mendampingi anak.

Perempuan Pelita Digital: Meneruskan Semangat Kartini

Sebagai bagian dari gerakan tersebut, IWCS menghadirkan program Perempuan Pelita Digital—sebuah inisiatif yang bertujuan menjadikan perempuan sebagai “pelita” atau sumber penerang dalam ekosistem digital.

Program ini tidak sekadar memberikan edukasi, tetapi juga membangun kepercayaan diri perempuan dalam memahami serta menghadapi berbagai risiko digital.

Tiga fokus utama program ini meliputi:

Awareness untuk ibu dan komunitas
Mentorship untuk perempuan muda
Program Cyber Safe Kids

Seluruh program dirancang dengan pendekatan yang praktis, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia.

“Keamanan Digital Dimulai dari Rumah”

Founder sekaligus Ketua IWCS, Eva Noor, menegaskan bahwa pendekatan berbasis keluarga merupakan kunci dalam membangun ketahanan digital yang berkelanjutan.

“Seringkali cybersecurity dianggap sebagai sesuatu yang kompleks dan teknis. Padahal, banyak risiko digital justru berawal dari hal-hal sederhana—seperti mengklik tautan yang salah, membagikan informasi tanpa sadar, atau kurangnya komunikasi dalam keluarga,” ujar Eva Noor, Sabtu (2/5/2026) pada wartawan di Jakarta.

Ia menambahkan, keamanan digital sejatinya dimulai dari rumah, dengan perempuan—khususnya ibu—memegang peran penting sebagai pengarah sekaligus pelindung dalam ekosistem digital keluarga.

Menurutnya, kehadiran regulasi seperti PP Tunas harus diiringi kesiapan masyarakat.

“Regulasi adalah langkah penting dari pemerintah. Namun dampaknya akan jauh lebih besar jika masyarakat, terutama orang tua, memiliki pemahaman yang memadai. Perlindungan anak di ruang digital harus hidup dalam keseharian, bukan hanya berhenti pada kebijakan,” tegasnya.

Dari Inspirasi Menjadi Aksi Nyata

Melalui program Perempuan Pelita Digital, IWCS tidak hanya mengangkat semangat Kartini sebagai inspirasi, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam aksi nyata.

Berbagai kegiatan telah dijalankan, mulai dari edukasi bagi ibu-ibu di komunitas, sesi pendampingan untuk perempuan muda, hingga program Cyber Safe Kids di sekolah-sekolah.

Pendekatan ini menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai agen perubahan dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.

Menyalakan Lebih Banyak Pelita di Seluruh Indonesia

Ke depan, IWCS menargetkan perluasan jangkauan program ke lebih banyak kota dan komunitas di Indonesia. Harapannya, semakin banyak perempuan yang terlibat aktif dalam gerakan ini.

Pada akhirnya, masa depan digital yang aman tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi oleh manusia yang memahami dan menggunakannya secara bijak.

Di era ini, setiap perempuan memiliki peluang untuk menjadi Kartini Digital—tidak hanya terhubung, tetapi juga melindungi dan memberdayakan

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP