JAKARTA, Balidokumenter.com
Di dunia musik, pergantian personel dalam sebuah grup band bukanlah hal baru.
Banyak band besar harus menghadapi dinamika internal yang tidak mudah — mulai dari kesibukan pekerjaan pribadi di luar musik, perbedaan visi, salah pengelolaan, hingga persoalan kepercayaan yang perlahan mengikis kebersamaan.
Namun di balik semua itu, ada band-band yang memilih tetap bertahan. Salah satunya adalah Wayang.
Band yang populer pada era 1990-an itu kembali menghadapi fase penting dalam perjalanan musiknya.
Setelah sempat comeback lewat kolaborasi bersama Lovely dalam single “Cinta Pertama” pada Mei 2025, Wayang kembali harus menerima kenyataan ditinggal salah satu personel utamanya.
Pada akhir Desember 2025, Wayang resmi mengumumkan keputusan sang vokalis, Wahyudi Ramdhan atau Yudi, untuk mengundurkan diri dari band yang telah membesarkan namanya tersebut.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan kepada media, Ahmad Fauzi atau yang akrab disapa Odji mengatakan bahwa keputusan itu menjadi bagian dari perjalanan yang harus diterima dengan lapang dada.
“Wayang kini resmi berpisah dari Wahyudi Ramdhan sejak 2 Januari 2026. Kami berterima kasih atas suara, waktu, dan tenaga yang menjadi bagian penting perjalanan Wayang hingga saat ini,” ujar Odji,(27/5/2026), saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon seluler di Jakarta.
Sosok Odji dan Lagu-Lagu yang Menjadi Warisan Wayang
Di balik perjalanan panjang Wayang, nama Odji menjadi salah satu figur sentral yang sulit dipisahkan dari identitas musikal band tersebut.
Bersama personel lainnya, Odji ikut menciptakan lagu “Damai” yang menjadi salah satu karya emosional Wayang.
Namun sejumlah lagu hits yang benar-benar lahir dari tangan kreatif Odji dan kemudian melejit di industri musik Indonesia antara lain “Dongeng”, “Kecewa”, “Gadis Kecil”, “Beri Aku Cinta”, hingga “Tak Selamanya”.
Lagu-lagu itu bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga membentuk karakter khas Wayang di tengah industri musik pop rock Indonesia era 90-an.
Nama Wayang dan Sosok Bunda Lilik
Bagi Odji, mempertahankan nama Wayang bukan sekadar soal eksistensi band lama. Ada sejarah dan ikatan emosional yang sangat kuat di dalamnya.
Nama Wayang sendiri lahir dari sosok Bunda Lilik, yang sejak awal menjadi Executive Producer sekaligus manajer band tersebut. Sosok yang dianggap “melahirkan” Wayang itu disebut masih memiliki perhatian besar terhadap perjalanan band hingga saat ini.
Karena itulah, meski formasi berubah dan warna musik berkembang mengikuti zaman, nama Wayang tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah panjang perjalanan mereka.
Wajah Baru dengan Energi yang Berbeda
Kini Wayang memasuki babak baru dengan formasi yang lebih segar dan modern.
Band ini resmi memperkenalkan Taurin sebagai vokalis baru, bersama Odji (bass), Ilham (gitar), Aie (gitar), dan Farid (drum).
Sebagai langkah awal era baru tersebut, Wayang langsung merilis dua single sekaligus: “Mati Aku Mati” yang bernuansa alternative rock modern, serta versi daur ulang dari hits legendaris mereka, “Tak Selamanya”.
Perubahan warna musik Wayang kini terasa cukup signifikan. Distorsi gitar yang lebih tebal, nuansa alternative rock yang modern, serta karakter vokal perempuan yang kuat dan energik membuat Wayang tampil berbeda dibanding sebelumnya.
Transformasi itu menjadi sinyal bahwa Wayang tidak ingin hanya hidup dari nostalgia.
Kini publik tinggal menunggu bagaimana langkah Wayang selanjutnya di tengah industri musik yang terus berubah cepat. Namun satu hal yang jelas, band ini masih memilih bertahan dan terus berkarya.
Karena dalam perjalanan sebuah band, pergantian personel mungkin tidak bisa dihindari. Tetapi semangat untuk tetap hidup dalam musik, adalah cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. (Beng Aryanto)
EDITOR : EMHA DIEN SYAMSUDDIN