PSEL Denpasar Raya Dinilai Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Sampah Bali

DENPASAR, Balidokumenter.com

Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya yang ditandai dengan groundbreaking pada 8 Juli 2026 dinilai menjadi momentum penting dalam upaya memperbaiki tata kelola sampah di Bali. Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun itu dirancang mampu mengolah sekitar 1.200 ton sampah per hari atau lebih dari 500 ribu ton per tahun, sekaligus menghasilkan energi listrik bagi sekitar 100 ribu rumah tangga dan menekan emisi karbon hingga 640 ribu ton CO₂ setiap tahun.

Kabiro Sosial Masyarakat PD KMHDI Bali periode 2025–2027, Nengah Dwi Darma, menilai pembangunan PSEL merupakan langkah maju dalam pengelolaan sampah di Bali. Namun, ia menegaskan keberhasilan proyek tersebut tidak bisa hanya bertumpu pada teknologi.

“PSEL harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat dari hulu agar persoalan sampah benar-benar selesai,” ujarnya.

Menurut Nengah, persoalan utama pengelolaan sampah di Bali selama ini tidak hanya terletak pada keterbatasan tempat pembuangan akhir, tetapi juga pada sistem pengelolaan dari sumbernya. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, penguatan bank sampah, TPS3R, pelaku daur ulang, serta partisipasi masyarakat disebut menjadi faktor penting yang harus berjalan beriringan dengan keberadaan PSEL.

Ia menambahkan, jika sampah masih tercampur antara organik, anorganik, dan limbah berbahaya, maka fasilitas tersebut hanya akan menerima persoalan yang belum terselesaikan dari sumbernya.

Lebih lanjut, Nengah menegaskan bahwa semangat pengelolaan sampah di Bali seharusnya sejalan dengan nilai Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Karena itu, pembangunan infrastruktur modern perlu dibarengi dengan perubahan budaya masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah.

Menurutnya, keberhasilan PSEL tidak hanya diukur dari jumlah listrik yang dihasilkan atau banyaknya sampah yang diolah, tetapi juga dari berkurangnya timbulan sampah, meningkatnya angka daur ulang, terciptanya lingkungan yang lebih sehat, serta manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia juga mendorong agar pelaksanaan proyek dilakukan secara transparan, memenuhi standar lingkungan, dan melibatkan partisipasi publik dalam proses pengawasan.

“Bali membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, bukan hanya pembangunan fisik semata. Dengan demikian, PSEL Denpasar Raya diharapkan benar-benar menjadi titik balik menuju Bali yang bersih, mandiri energi, dan mampu menyelesaikan persoalan sampah bagi generasi sekarang maupun mendatang,” kata Nengah.(

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top