Merajut Kembali Ukhuwah: Silaturahmi Menguatkan Iman

JAKARTA, Balidokumenter.com Bertambahnya usia menjadi momentum bagi para alumni SMP 41 Jakarta Angkatan 1986 untuk kembali meneguhkan hubungan persaudaraan yang telah terjalin sejak masa sekolah. Tidak berhenti pada pertemuan informal, para alumni yang tergabung dalam ILUNI 41’86 itu mulai membangun kegiatan silaturahmi yang dipadukan dengan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Semangat tersebut diwujudkan melalui kajian dan renungan Islami bertema “Merajut Kembali Ukhuwah: Silaturahmi Menguatkan Iman” di Masjid Jami Darussalam, Jalan Bhakti, Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Minggu (13/9/2026) pagi.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan ruang pertemuan yang lebih bermakna bagi para alumni. Selain mempererat kembali hubungan antarsesama, forum tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman agama dan mengisi perjalanan usia dengan kegiatan yang bermanfaat.

Kegiatan itu dihadiri para alumni ILUNI 41’86, jamaah Masjid Darussalam, serta sejumlah undangan. Hadir pula Penasihat DKM Masjid Darussalam, Prof. Djohermansyah Djohan, yang dikenal sebagai Guru Besar IPDN, ahli otonomi daerah, serta mantan Direktur Jenderal Otonomi Daerah periode 2010–2014.

Dalam sambutannya sebelum kajian dimulai, Prof. Djohermansyah menekankan pentingnya menjaga silaturahmi. Menurutnya, silaturahmi tidak hanya mempererat persahabatan, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya berbagai kegiatan positif dan bermanfaat.

Silaturahmi, lanjutnya, merupakan salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Karena itu, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang untuk mempertemukan umat, membangun persaudaraan, dan memperkuat kepedulian sosial.

Kajian disampaikan oleh Ustadz Ahmad Fuad, yang juga merupakan bagian dari keluarga besar alumni SMP 41 Jakarta Angkatan 1986. Dengan tema “Merajut Kembali Ukhuwah: Silaturahmi Menguatkan Iman”, materi yang disampaikan menempatkan silaturahmi sebagai bagian dari akhlak sekaligus jalan untuk memperkuat keimanan.

Agama, ilmu, dan pembentukan akhlak

Dalam materi kajian, dijelaskan bahwa agama mencakup tiga bagian penting, yakni akidah, akhlak dan fikih . Akidah berkaitan dengan benar dan salah, fikih memberi pedoman mengenai halal dan haram dengan apa yang dilakukan, sedangkan akhlak menjadi dasar bagi manusia dalam memahami baik dan buruknya sebuah perbuatan serta membentuk adab dan moral seseorang dalam kehidupannya.

tiga bagian diatas tidak hanya membuat seseorang mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga membimbingnya untuk memahami mana yang baik dan buruk. Karena itu, pengetahuan semestinya melahirkan sikap yang lebih santun, rendah hati, dan bertanggung jawab.

Silaturahmi kemudian ditempatkan sebagai bagian dari akhlak. Hubungan antarmanusia tidak cukup hanya dijaga melalui pertemuan, tetapi juga melalui ketulusan, kepedulian, saling menghormati, dan kesediaan untuk saling memperbaiki.

Ilmu, hati, dan rasa syukur

Materi kajian juga mengingatkan bahwa manusia ketika lahir belum memiliki pengetahuan. Namun, Allah membekali manusia dengan pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana untuk belajar dan mengenali kehidupan.

Pesan tersebut sejalan dengan kandungan QS An-Nahl ayat 78, yang menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu, kemudian diberi pendengaran, penglihatan, dan hati agar mampu bersyukur. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya.

Rasa ingin tahu yang dimiliki manusia menjadi bagian dari fitrah yang mendorongnya untuk terus belajar. Namun, ilmu juga memerlukan hati yang bersih. Hati yang peka akan membantu seseorang menerima kebenaran, sedangkan hati yang dikotori kesombongan, iri hati, prasangka, dan penyakit batin lainnya dapat membuat ilmu kehilangan arah.

Tanpa ilmu, manusia juga akan kesulitan memahami makna syukur. Ketika memperoleh rezeki, yang semestinya pertama-tama disyukuri bukan hanya bertambahnya saldo atau besarnya pemberian, melainkan Allah sebagai Zat Yang Maha Agung dan Maha Memberi.

Kesadaran tersebut membuat seseorang mampu melihat nilai sebuah nikmat tanpa semata-mata mengukurnya dari besar atau kecilnya. Syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga harus diwujudkan dengan menjaga nikmat, menggunakannya di jalan yang benar, dan menghindari perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Sebaliknya, kufur nikmat adalah sikap tidak mensyukuri apa pun yang telah diberikan Allah. Nikmat tidak semestinya dicemari dengan dosa, terlebih digunakan untuk menentang atau mengingkari Zat yang telah menganugerahkannya.

Silaturahmi sebagai jalan persaudaraan

Nikmat terbesar bagi umat Islam adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran dan teladan kehidupan. Melalui keteladanan Rasulullah, umat Islam diajarkan untuk menjaga akhlak, memperkuat persaudaraan, dan tidak memutus tali silaturahmi.

Silaturahmi yang dilakukan karena Allah Ta’ala merupakan silaturahmi yang suci. Hubungan tersebut tidak semata-mata dibangun atas kepentingan duniawi, tetapi atas dasar keikhlasan, kasih sayang, dan niat menjalankan perintah Allah.

Silaturahmi juga menjadi proses merajut hubungan hingga melahirkan persaudaraan. Hubungan yang dirawat dengan ketulusan dapat menjadi ruang untuk saling mengingatkan, saling memperbaiki, dan saling menguatkan.

Pesan untuk menjaga persaudaraan tersebut sejalan dengan QS Ali Imran ayat 103, yang mengingatkan umat agar berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai. Ayat tersebut menegaskan pentingnya persatuan serta larangan membiarkan perbedaan menjadi sebab terputusnya hubungan.

Silaturahmi yang mulai melemah menunjukkan adanya persoalan pada hati dan tujuan. Hubungan antarmanusia dapat dipengaruhi kepentingan, prasangka, ego, atau penyakit hati. Jika tidak dijaga, keadaan tersebut dapat membuka ruang bagi perselisihan dan perpecahan.

Karena itu, merawat silaturahmi berarti meluruskan niat, membersihkan hati, dan mengembalikan hubungan kepada tujuan utama: saling mengenal, saling menguatkan, saling memperbaiki, serta mencari rida Allah.

Dalam materi kajian tersebut juga disampaikan sejumlah manfaat silaturahmi, antara lain memurnikan amal, menumbuhkan keberkahan dalam harta, memudahkan hisab di akhirat, menjadi perisai ketika menghadapi bencana, serta menjadi sebab bertambahnya umur.

Menjadi agenda rutin

Bagi ILUNI 41’86, kegiatan tersebut bukan sekadar acara seremonial atau pertemuan sesaat. Kajian direncanakan berlangsung rutin setiap bulan, pada Minggu kedua, sebagai ruang untuk mempererat kembali hubungan antarsesama alumni sekaligus mengisi masa bertambahnya usia dengan kegiatan yang bermanfaat.

Gagasan kegiatan bermula dari obrolan santai para alumni di sebuah restoran. Ide tersebut kemudian direalisasikan oleh Ade Rahardjo dan Beng Aryanto melalui pembentukan panitia kecil, dengan dukungan pribadi dari Ketua ILUNI 41’86, Nur Primawira.

Semangat itu semakin mendapat ruang setelah Rahmat Adiputera, yang akrab disapa Buyung, diketahui menjabat sebagai Ketua DKM Masjid Darussalam. Masjid tersebut kemudian tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk mempertemukan kembali para alumni, membangun silaturahmi, dan berbagi pemikiran dalam suasana santai serta kekeluargaan.

Melalui agenda bulanan ini, ILUNI 41’86 ingin menjaga agar hubungan yang telah terjalin sejak masa sekolah tidak terputus oleh perjalanan waktu. Semakin bertambah usia, semakin penting menjaga silaturahmi, memperkuat iman, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. (Beng Aryanto)

\ Get the latest news /

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top