Penulis I Komang Pasek Antara
Gong gelaran sepak bola dunia empat tahunan 2026 telah bergulir di lapangan hijau berlangsung selama satu bulan lebih, 11-19 Juni 2026 di tiga negara Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada.
Hampir semua mata penduduk belahan dunia tertuju kepada perhelatan si kulit bundar langsung di stadion atau melalui layar kaca televisi atau nobar (nonton bareng) layar lebar.
Beragam cara warga penggila sepak bola di jagat raya menyambutnya.
Penulis yang mantan pemain sepak bola sejak masih kecil usia sekolah dasar hingga dewasa, turut menyambut dan memeriahkan perhelatan Pala Dunia 2026 dengan cara menulis di media sosial sejenak mengenang masa lalu bertajuk “Kilas Balik Maraknya Sepak Bola KarangasemTahun 1980-an”.
Kata orang bijak bernostalgia masa indah dapat memicu pelepasan hormon depomin yang nembauat perasaan menjadi lebih nyaman dan berbahagia sehingga efektif meredakan kecemasan dan stress.
Diharapkan pembaca dapat menambahkan melengkapi sajian hasil liputan di media untuk menambah pengetahuan pembaca khususnya yang belum lahir saat tahun 1980-an atau masih usia kanak-kanak belum tahu bagaimana kodisi sepak bola di Karangasem dibadingkan dengan era kini.
Mungkin ada yang rindu memutar kembali jarum arloji menyaksikan si kulit bundar megelinding di lapangan Candra Bhuwana Amlapura yang sebelumnya lapangan tersebut dikenal dengan sebutan nama Alun-alun.
Awal tahun 1980-an persepakbolaan di Kabupaten Karangasem mulai tumbuh pesat semarak ramaikan even-even tertentu. Hal tersebut sesuai program pemerintah “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat”. Sepak bola menjadi pilihan hobi utama olahraga masyarakat di kota mauun desa untuk kesehatan dan hiburan paling populer di seantero belahan dunia. Juga saat itu masyarakat mulai terimbas tayangan-tayangan sepak bola lokal dan dunia melalui media televisi TVRI.
Nama-nama Klub Sepak Bola
Puluhan klub-klub sepak bola amatir swasta yang pernah berdiri di Karangasem dari kota sampai ke desa-desa. Nama-nama klub yang ada dalam ingatan penulis yang ada di kota Amlapura yakni Sparta (Sport Taruna Amlapura), Gajahmada FC, IM (Indonesia Muda), Tanah Aron, Putra Parta, Sonata (Sport Taruna Tampuagan), Terminal Putra (pemainnya tunggal di sekitar Terminal Amlapura, Setia, Arget (Anak-anak Geria Tegeh), Putra Gana ( nama jalan Gatot Subroto-Nazamudin), Jeruk Manis (dikenal dengan nama Jerman), Wira Bhuwana, pemainnya tinggal di seputar Jalan Lettu Alit, pimpinan Ida Bagus Mahadewa.
Sedangkan klub-klub yang ada di luar Kota Amlapura yakni Perseba 80 (Persatuan Sepak Bola Bebandem), Tunas Remaja Rendang, Porlam (Labuan Manggis), PS Union Tumbu, Persis Subagan, Garuda Mas Kecicang, Padang Bai, dan klub-klub kecamatan lainnya.
Juga saat itu instansi pemerintah memiliki klub aktif selalu ikut dalam setiap turnamen diantaranya Polri pemainnya Polisi yang bertugas di Karangasem, Depdagri (Departemen Dalam Negeri), pemainnya dari kalangan pegawai Pemkab Karangasem dan siswa SMAN Karangasem (kini SMAN 1 Amlapura).
Jauh sebelum tahun 1980-an, penulis memperoleh cerita dari para “pengelingsir”, di Kota Amlapura pernah ada klub sepak bola lokal banjar/lingkungan diantaranya Roket, Stupa (Banjar Pekandelan), Pestam (Kampung Ampel), Poster (kini Jalan Gajahmada dan sekitarnya).
Gelaran pertandingan sepak bola di lapangan Candra Bhuwana Amlapura satu-satunya lapangan umum di Kota Amlapura kala itu era tahun 1980-an itu sangat marak. Pertandingan dirangkaikan dengan perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan kompetisi yang digelar oleh induk sepak bola Karangasem Persaka (Persatuan Sepak Bola Karangasem).
Bila ada pertandingan olahraga perayaan HUT Kemerrdekaan RI, warga Karangasem kota dan desa tumpah ruah saksikan pertandingan. Lapangan Candra Bhuwana waktu itu penuh sesak tumpah ruah dari penonton tua-muda dan anak-anak, karena selain pertandingan cabang sepak bola, juga ada cabang pertandingan lain yakni Voli, Basket dan Tenis. Kala itu warga Karangasem sangat haus hiburan, itu satu-satunya hiburan murah meriah, tak ada lagi hiburan lain seperti sekarang ini era teknlogi komunikasi.
Seiring perjalanan waktu 40 tahunan sudah berlalu, sepak bola Karangasem klub-klub amatir swasta perlahan mulai berkurang tidak aktif lagi tidak sepereti era tahun 1980-an kini nyaris tak terdengar lagi.
Kini lapangan Candra Bhuwana sejak tahun 2016 lalu telah beralih fungsi menjadi taman budaya seperti yang Anda lihat sekarang. Sarana cabang olahraga lainnya seperti sepak bola, voli, basket dan tenis lapangan dipusatkan di Lapangan Yowana Wijaya Jalan Untung Surapati Amlapura depan SMAN 2 Amlapura.
Era tahun itu klub-klub mayoritas ada di seputar kota dekat Lapangan Candra Bhuwana Amlapura, dan tempat itu dijadikan tempat latihan juga pertandingan.
Mendukung tulisan ini, penulis suguhkan foto-foto masa lalu sepak bola Karangasem di Lapangan Candra Bwana Amlapura. Sebagian koleksi milik penulis pribadi dan hasil usaha memburu ke tokoh legendaris sepak bola Karangasem, I Dewa Gede Rai usia 88 tahun. Beliau masih banyak menyimpan foto kenangan dalam album.
Mungkin pembaca masih mengenal para “bintang” pemain bola dalam foto yang kini berubah wajah dan fisik seiring bertambah usianya. Dan tentu akan terkenang dan tersenyum dikulun rasa kerinduan ketika ada pembaca yang mantan pemain melihat dirinya sendiri jadi pemain bola saat itu memberitahukan kepada anak cucunya.
Tentu pula sudah banyak pemain yang telah alamarhum, mendahului kita. Melalui momen ini penulis yang menjadi kawan dan lawan tanding saat di lapangan main bola menyampaikan doa kepada almarhum Amoring Acintya, semoga mendapat pahala sesuai amal bhaktinya dari Hyang Widhi/Tuhan.
*CLBK dari Para Mantan Pemain*
Beberapa mantan pemain klub sepak bola di Karangasem era 1980-an yang penulis hubungi, merasa terkenang terharu masih bisa mengingat CLBK (Cerita Lama Berulang Kembali) peristiwa kenangan 40-tahun lalu meski sudah lanjut usia.
Diantaranya yang sempat menuturkan kepada penulis kenangannya yang tak pernah terlupakan. Ida Bagus Oka Pidada seorang pemain striker yang pernah bergabung di klub di Amlapura Indonesia Muda (IM) Amlapura dan Gajah Mada Amlapura.
Kenangannya ketika bermain tanding persahabatan di di Stadion Mayor Metra Singaraja lawan Klub Setia Kawan Singaraja juara kompetisi Persibu (Persatauan Sepak Bola Buleleng). Naik truk bersama penulis dari Karangasem bertanding lawan klub di Gerogak Buleleng, dan tentu kenangan peristiwa bermain di Lapangan Candra Bhuwana Amlapura.
Tutur Gus Oka, demikian sapaan sehar-hari Ida Bagus Oka Pidada, ia terkesan dengan tampilan satu klub ketika di IM penjagwa gawang I Ketut “Cece” Arianta yang dikenal dengan tangakapan bola akrobatiknya. Bahkan Cece sempat diajak bergabung disalahsatu klub juara kompetisi sepak bola Persibu (Persatuan Sepak Bola Buleleng).
Cerita lucu kenangan dari Cece ditulis melalui chat Watts App, waktu itu penjaga gawang yang pernah bela klub IM dan SMAN Karangasem, menuturkan. Penulis dengan Cece waktu itu satu klub SMA Karangasem dan IM. Penulis main sektor belakang. Cece terkesan sebagai penjaga gawang dadakan, padahal dia bukan penghobi sepak bola. Waktu itu SMAN Karangasem tempat sekolahnya akan ikut turnamen sepak bola di Karangasem, sekolahnya krisis penjaga gawang. Cece ditunjuk oleh I Komang Gede Geria guru olahraga SMAN Karangasem. Cerita Cece, dia dilihat tangkapan bolanya bagus ketika dirinya bermain basket sebagai hobinya di lapangan Candra Bhuwana, karena dia tinggal dekat anak kost di depan rumahnya lapangan basket di lapangan tersebut. Skill penjaga mistar gawang dan tangkapan bola Cece terus meningkat seperti dituturkan oleh Gus Oka, sampai dia pernah ditawari kerja di perbankan melanjutklan profesinya.
Kenangan lain juga dituturkan oleh Pemain Terbaik hasil kompetisi Persaka tahun 1989 lalu dari Klub Perseba 80 Bebandem, Ida Ketut Santosa. “Pada waktu itu saya merasa bangga bisa menghibur masyarakat Karangasem melalui olahraga sepak bola. Dan antusias masyarakat sangat bagus memberikan dukungan moral dan materi, makanya setiap ada pertandingan dari babak penyisihan sampai final, masyarakat betul-betul semangat.”.
Kesan haru juga dari I Gusti Agung Agustina yang dinekal dengan sapaan akrab “Krebek”. Dirinya asal Denpasar pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Karangasem tahun 1982 dan melihat Kompetisi antar Klub sangat meriah dan antusias penonton sangat luar biasa dilapangan Chandra Bhuana Amlapura. Dirinya pernah bergabung di klub Indonesia Muda dan Gajah Mada Amlapura hingga menjadi pelatih SSB (Sekolah Sepak Bola), Persaka dan beberapa klub lainnya termasuk futsal.
Cerita kenangan lain dari I Gusti Raka Kembar. Waktu itu dirinya bergabung di Klub Tanah Aron Amlapura , “Kenangan dimasa itu tahun 1980-an sangat luar biasa, suka duka sulit dilupakan, dari sepatu yang giginya dipacek dangan paku. Dibon oleh klub lain untuk ujicoba pertandingan ke luar kabupaten tidak pernah menanyakan apa yang saya akan dapat?, yang penting bermain untuk cari pengalaman.
Kenangan ini datang dari jauh di Bandung, Jawa Barat. Mantan pemain Sparta, I Wayan Sudarma yang kelahiran Banjar Taman Amlapura yang lebih dikenal dengan sapaan nama “Lambih”, sejak tahun 1981 tinggalkan Bali merantau kerja di Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) Bandung, Jawa Barat.
Dimata penonton Karangasem saat itu Lambih diibaratakn Mario Kempes-nya Karangasem. Waktu itu demam Mario Kempes salahsatu pemain Argentina terbaik dan pencetak gol terbanyak dalam Piala Dunia 1978. Dihubungi Lambih melalui WhtasApp, dirinya mengenang banyak pengalaman berharga yang saya peroleh dari sepakbola Karangasem menempa fisik dan skil sepak bola sampai berlanjut berkarier sepakbola di klub Angkasa Bandung.
Cerita kenangan pemain di atas Gus Oka, Cece, Lambih, Ida Ketut Santosa, Gusti Raka, dan Krebek akan ditulis lebih lengkap dan dishar di media secara berkala dalam liputan “Menyambut Piala Dunia 2026, Kilas Balik Profil Klub Sepak Bola Karangasem tahun 1980-an”.
Sementara itu sang pengadil di lapangan hijau wasit/hakim garis yang era dulu tahun 1980-an dikenal dengan korps baju hitamnya sebagian masih tampak masih sehat dan veraktiviatas, diantaranya Ida Pandita Empu Dwija Yoga Nantha (walaka I Wayan Pasek Sutama), Jero Mangku Sambi, I Made Merta, dan I Dewa Gede Rai. Sedangkan yang sudah almarhum Husien Bajri, Luter, Gusti Made Karang, I Komang Raka “Mangmung”, dan Putu Dekot.
Sedangkan Ketua Persaka masa itu pernah dijabat masing-masing seorang pengusaha, Mustika Sari dan Ida Made Geria (alm) yang saat itu menjabat sebagai Waka Polres Karangasem. Semoga bermanfaat. (bersambung).